Penerapan PSAK 24: Mengupas Jenis Imbalan Kerja dalam Laporan Keuangan

Penerapan PSAK 24 dalam Laporan Keuangan, Wajib Tahu!

Dalam laporan keuangan, PSAK 24 adalah standar akuntansi keuangan yang mengatur akuntansi dan pelaporan imbalan kerja oleh semua entitas. Standar ini mensyaratkan entitas untuk mengakui dan mengukur biaya imbalan kerja dengan cara yang konsisten dengan basis akrual.

Imbalan kerja adalah semua bentuk imbalan yang diberikan oleh entitas sebagai imbalan atas jasa yang telah diberikan oleh pekerja atau kerja. Terdapat empat jenis imbalan kerja utama yang diatur dalam PSAK 24 yaitu imbalan kerja jangka pendek, imbalan pasca-kerja, imbalan kerja jangka panjang, dan pesangon pemutusan hubungan kerja.

  1. Imbalan kerja jangka pendek adalah imbalan kerja (selain pesangon pemutusan imbalan kerja) yang diharapkan akan diselesaikan seluruhnya dalam waktu dua belas bulan setelah akhir periode pelaporan tahunan di mana pekerja memberikan jasa jasa yang terkait. Contoh imbalan kerja jangka pendek adalah upah, gaji, bonus, dan cuti.
  2. Imbalan pasca-kerja adalah imbalan kerja (selain pesangon dan imbalan imbalan pemutusan hubungan kerja dan imbalan kerja jangka pendek) yang dibayarkan setelah pekerja menyelesaikan masa kerjanya baik karena pensiun atau meninggalkan entitas. Contoh imbalan pasca-kerja adalah pensiun, asuransi kesehatan, dan asuransi jiwa.
  3. Imbalan kerja jangka panjang adalah semua imbalan kerja selain imbalan kerja jangka pendek, imbalan pascakerja dan imbalan imbalan kerja. Contoh imbalan kerja jangka panjang selain imbalan pasca-kerja adalah program bagi hasil dan program kompensasi yang ditangguhkan.
  4. Pesangon pemutusan hubungan kerja adalah imbalan kerja yang diberikan sebagai imbalan atas pemutusan hubungan kerja karyawan sebagai akibat dari salah satu hal berikut:
    • keputusan entitas untuk mengakhiri hubungan kerja karyawan sebelum tanggal pensiun normal; atau
    • keputusan pekerja untuk menerima tawaran imbalan sebagai imbalan atas pemutusan hubungan kerja.

Prinsip Dasar Imbalan Kerja

1. Pengakuan

PSAK 24 mensyaratkan entitas untuk mengakui biaya imbalan kerja sebagai beban dalam periode dimana imbalan tersebut menjadi hak pekerja.

2. Pengukuran

Biaya imbalan kerja diukur dengan menggunakan nilai wajar imbalan yang diharapkan akan dibayarkan.

    • Imbalan kerja jangka pendek, biaya umumnya diakui sebagai beban pada saat imbalan tersebut dibayarkan.
    • Imbalan pasca-kerja, biaya umumnya diakui sebagai beban selama periode dimana imbalan tersebut diharapkan akan dibayarkan. Jumlah beban yang diakui setiap periode didasarkan pada jumlah pembayaran masa depan yang diharapkan, dan kemudian didiskontokan ke nilai kini.
    • Imbalan jangka panjang (selain imbalan pasca-kerja), biaya umumnya diakui sebagai beban pada saat imbalan tersebut menjadi hak karyawan. Namun, jika imbalan tersebut belum menjadi hak (vested), maka biaya tersebut baru diakui pada saat imbalan tersebut menjadi hak (vested).

3. Pengungkapan

PSAK 24 juga mensyaratkan entitas untuk mengungkapkan informasi tertentu mengenai program imbalan kerja dalam laporan keuangan. Informasi ini mencakup sifat dan luasnya program imbalan kerja, biaya program, dan nilai wajar aset program.

Penerapan PSAK 24 membantu memastikan bahwa laporan keuangan entitas mencerminkan biaya imbalan kerja secara akurat. Informasi ini penting bagi pengguna laporan keuangan, seperti investor, kreditur, dan karyawan, karena membantu mereka menilai kinerja keuangan dan posisi keuangan entitas.

Program Imbalan Pasca-kerja

Menurut PSAK 24, program imbalan pasca-kerja adalah program yang memberikan imbalan kepada karyawan setelah mereka berhenti bekerja. Imbalan tersebut dapat berupa pensiun, asuransi jiwa pasca-kerja, dan perawatan kesehatan. PSAK 24 mensyaratkan bahwa semua program imbalan pasca-kerja dicatat dengan dasar akrual, yang berarti bahwa biaya imbalan tersebut diakui sebagai beban selama periode dimana karyawan berhak atas imbalan tersebut.

Terdapat dua jenis program imbalan pasca-kerja: program iuran pasti dan program imbalan pasti.

    • Program iuran pasti adalah program dimana pemberi kerja mengkontribusikan jumlah tertentu kepada program untuk setiap karyawan. Jumlah imbalan yang diterima karyawan didasarkan pada jumlah iuran yang telah dibayarkan kepada program dan kinerja investasi aset program.
    • Program imbalan pasti adalah program dimana pemberi kerja berjanji untuk memberikan imbalan tertentu kepada setiap karyawan pada saat mereka pensiun. Jumlah imbalan biasanya didasarkan pada gaji dan masa kerja karyawan.

PSAK 24 mensyaratkan bahwa biaya program imbalan pasti ditentukan dengan menggunakan metode Projected Unit Credit (PUC). Metode ini mensyaratkan pemberi kerja untuk mengestimasi nilai kini imbalan yang akan dibayarkan kepada karyawan di masa depan. Entitas kemudian mengakui beban untuk biaya imbalan tersebut selama periode dimana pekerja berhak atas imbalan tersebut.

Berikut ini adalah beberapa ketentuan mengenai program imbalan pascakerja berdasarkan PSAK 24:

    • Pemberi kerja bertanggung jawab atas kelangsungan keuangan program.
    • Pemberi kerja harus membayar iuran kepada program secara tepat waktu.
    • Pemberi kerja harus mengungkapkan informasi mengenai program tersebut dalam laporan keuangan.
    • Karyawan memiliki hak tertentu dalam program imbalan pasca-kerja, seperti hak untuk menerima imbalan jika mereka menjadi cacat atau meninggal dunia.
Past Service Cost: Mengukur Kewajiban Pensiun dan Manfaat Karyawan

Past Service Cost: Mengukur Kewajiban Pensiun dan Manfaat Karyawan

Past service cost adalah biaya yang timbul dari perubahan manfaat karyawan di masa lalu. Biaya ini perlu diakui pada laporan keuangan karena mencerminkan kewajiban perusahaan terhadap karyawan di masa lalu. Meskipun tidak selalu menjadi fokus utama dalam laporan keuangan, biaya ini memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kondisi keuangan jangka panjang perusahaan.

Pentingnya past service cost dan alasan mengapa perusahaan harus memperhitungkannya adalah karena perubahan program manfaat karyawan, seperti kenaikan gaji di masa lalu atau perubahan durasi kerja, dapat menyebabkan past service cost. Perhitungannya didasarkan pada estimasi manfaat pensiun yang akan diterima karyawan di masa depan.

Hal ini dapat mempengaruhi laba bersih perusahaan dan neraca. Biaya ini termasuk dalam kategori biaya non-operasional yang dapat mengurangi laba bersih. Selain itu, juga mempengaruhi kewajiban manfaat karyawan yang tercermin dalam neraca perusahaan. Manajemen past service cost sangat penting untuk mengelola arus kas dan laba perusahaan. Perusahaan harus mempertimbangkan dampaknya terhadap keuangan, kebijakan manfaat karyawan, dan mematuhi standar akuntansi seperti PSAK 24.

Dengan memahami dan mengelola past service cost dengan baik, perusahaan dapat mengoptimalkan kinerja keuangan jangka panjang dan memastikan pencatatan yang akurat dalam laporan keuangan. Berikut alasanya mengapa penting bagi perusahaan.

Menjaga Keadilan dalam Program Manfaat Karyawan

Perusahaan mungkin melakukan perubahan pada program manfaat karyawan yang akan mempengaruhi manfaat karyawan yang diberikan di masa lalu. Dalam situasi seperti itu, past service cost harus diperhitungkan untuk memastikan bahwa manfaat karyawan di masa lalu tidak diabaikan.

Mempertimbangkan Dampak Perubahan Kebijakan

Perusahaan mungkin perlu melakukan perubahan kebijakan, seperti mengurangi jumlah tenaga kerja atau memodifikasi manfaat yang disediakan. Dalam hal ini, past service cost akan menjadi faktor penting untuk memperhitungkan pengaruh kebijakan tersebut terhadap karyawan. Past service cost memungkinkan perusahaan untuk mengevaluasi biaya-biaya yang terkait dengan perubahan kebijakan ini dan mengelola dampak yang mungkin terjadi pada karyawan dan keuangan perusahaan.

Mendukung Laporan Keuangan yang Akurat

Perhitungan past service cost sangat penting untuk laporan keuangan yang akurat dan transparan. Menyertakan past service cost dalam laporan keuangan perusahaan dapat memperjelas posisi keuangan perusahaan dan memungkinkan investor dan pemegang saham untuk memahami biaya yang terkait dengan manfaat karyawan.

Memperhatikan Kewajiban Masa Depan

Dengan memperhitungkannya, perusahaan dapat mengelola kewajiban yang mungkin timbul dari manfaat karyawan di masa lalu dan memastikan bahwa kewajiban tersebut dapat dipenuhi di masa depan.

Past service cost dapat memiliki pengaruh yang signifikan terhadap laporan keuangan perusahaan maupun terhadap kesehatan keuangan jangka panjang perusahaan. Memperhitungkan past service cost memungkinkan perusahaan untuk menjaga keadilan dalam program manfaat karyawan, mempertimbangkan dampak perubahan kebijakan, mendukung laporan keuangan yang akurat, dan memperhatikan kewajiban masa depan terkait manfaat karyawan. Oleh karena itu, perusahaan harus memperhitungkan past service cost secara hati-hati agar dapat membuat keputusan yang tepat dan mengelola risiko dengan lebih baik di masa depan.

Studi Kasus

Studi Kasus: PT XYZ

PT XYZ adalah sebuah perusahaan manufaktur yang memiliki program manfaat pensiun untuk karyawan. Pada tahun 2023, PT XYZ memutuskan untuk meningkatkan manfaat pensiun bagi karyawan yang sudah bekerja lebih dari 20 tahun, sebagai bentuk penghargaan atas loyalitas mereka. Keputusan ini menyebabkan perubahan pada program manfaat karyawan yang sudah ada, sehingga perusahaan harus menghitung dan mengakui past service cost.

Langkah-langkah yang diambil PT XYZ:

  1. Menghitung Past Service Cost: PT XYZ menggunakan aktuaria untuk menghitung nilai manfaat pensiun tambahan yang akan diterima oleh karyawan yang memenuhi syarat. Perhitungan ini melibatkan estimasi kenaikan gaji di masa depan, masa kerja yang tersisa hingga pensiun, dan tingkat diskonto yang sesuai.
  2. Mengakui Biaya dalam Laporan Keuangan: Setelah perhitungan selesai, PT XYZ mengakui past service cost sebesar Rp 5 miliar dalam laporan keuangan tahun 2023. Biaya ini dicatat sebagai kewajiban tambahan pada neraca dan sebagai biaya non-operasional pada laporan laba rugi.
  3. Menyesuaikan Arus Kas: PT XYZ juga menyesuaikan proyeksi arus kas untuk memastikan bahwa mereka dapat memenuhi kewajiban manfaat pensiun yang meningkat di masa depan. Ini termasuk mempertimbangkan dampak terhadap laba bersih dan arus kas operasional.
  4. Komunikasi dengan Pemangku Kepentingan: PT XYZ mengkomunikasikan perubahan ini kepada karyawan, investor, dan pemegang saham. Informasi yang jelas dan transparan disampaikan untuk memastikan semua pihak memahami dampak finansial dari perubahan program manfaat karyawan ini.

Hasil: Dengan mengakui dan mengelola past service cost secara tepat, PT XYZ berhasil menjaga keadilan dalam program manfaat karyawan, memastikan laporan keuangan yang akurat, dan memperhatikan kewajiban masa depan. Langkah-langkah ini membantu PT XYZ dalam mempertahankan kinerja keuangan yang sehat dan mendapatkan kepercayaan dari pemangku kepentingan.

Studi kasus ini menunjukkan betapa pentingnya perhitungan dan pengakuan past service cost dalam menjaga kesehatan keuangan jangka panjang perusahaan dan memastikan bahwa kewajiban terhadap karyawan dikelola dengan baik.


Daftar Pustaka

Kieso, D.E., Weygandt, J.J., & Warfield T. D. (2016). Intermediate accounting (16th ed.). John Wiley & Sons.

Schaubroeck, J., & Gan, Y. (2017). Pension accounting and the value relevance of book value and earnings: Evidence from the US. Journal of Business Finance & Accounting, 44(5-6), 685-716.

Sari, Y., & Ariyanto, A. (2019). Analisis Biaya: Pengaruh Past Service Cost terhadap Keuntungan Perusahaan. Jurnal Ekonomi Bisnis dan Kewirausahaan, 7(2), 117-128.

Nuryanti, N., & Rahmawati, Y. (2020). Pengaruh Past Service Cost, Cost of Quality, dan Cost Reduction terhadap Profitabilitas Perusahaan Manufaktur. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Ekonomi Akuntansi, 5(2), 17-26.